nDalem Sopingen
Ada
Kolonial Belanda
Tradisional
-
-
Panjang : Lebar :
Panjang : Lebar:
-
Oleh : Erwito Wibowo
Sopingen, adalah salah satu ruang publik di masa lalu ( era 1900-1980 ). Pengertian daripada ruang publik adalah ruang yang mempunyai status penggunaan umum yang ditujukan kepada siapa saja untuk menggunakan ruang tersebut dan melakukan kegiatan yang bersifat umum sesuai dengan aturan penggunaan serta penataan yang ditetapkan
Padahal, nDalem Sopingen adalah rumah kediaman yang memiliki bangunan pendopo milik keluarga R. Amat Dalem Sopingi yang berada di kampung Trunojayan kidul, kalurahan Prenggan Kotagede. Letak persisnya, toko elektronik Satria jalan Mondorakan ke utara 50 meter. Dengan nomer persil 314, luas 2096,75 m2 dan bangunan sekitar 1800 m2.
Sebagai seorang abdi dalem pada masa lalu, Amat Sopingi menyiapkan rumahnya untuk juga berfungsi sebagai tempat singgah, berkumpul, dan beristirahat bagi pejabat kerajaan yang akan berziarah di makam raja-raja Mataram di Kotagede.
Pada saat situasi Kebangkitan Nasional 1908, pendopo Sopingen merupakan tempat rapat propaganda organisasi Pergerakan Nasional. Disana, pernah datang dan berpidato tokoh-tokoh, seperti : HOS Cokroaminoto (Ketua Sarekat Islam), Samanhoedi (Pendiri Sarekat Islam),KHA. Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), Ki Hajar Dewantoro (Pemimpin Perguruan Tamansiswa), dan bahkan pimpinan-pimpinan komunis, seperti : Samaun, Muso dan Alimin.
Hingga pada pertengahan tahun 1920, tidak mustahil dua organisasi (PKI dan Muhammadiyah) dipilih oleh orang-orang Kotagede dari sekian banyak aneka gerakan Kebangkitan Nasional. Selanjutnya, bisa dibayangkan di Kotagede PKI dan Muhammadiyah, bagaikan dua ayam jago dalam satu kandang.
Seperti yang diamati oleh Van Mook, tumbuhnya pertentangan antara keduanya selama awal 1920 an. Yang menjadi masalah pertentangan besar antara Muhammadiyah dan PKI adalah murni ‘politik’ dan ‘agama’, sejauh menyangkut kawasan lokal Kotagede.
Pertentangan keduanya secara dramatis terungkapkan dalam insiden perselisihan bersamaan dengan konggres PKI yang diadakan di nDalem Sopingen Kotagede tahun 1924. PKI keliru memilih tempat di Kotagede yang disangka aman untuk melakukan propaganda terbuka.
Propaganda tersebut merupakan bagian kegiatan dari konggres. Semula PKI berkonggres di Yogya, tetapi di Yogya keamanan kurang terjamin disebabkan kuatnya pengaruh Sarekat Islam dan Muhammadiyah di kota Yogyakarta. Hal itu terlihat ketika rapat propaganda terbuka, propagandais-propagandais komunis disoraki supaya turun. PKI terpaksa memboyong tempat konggresnya di Kotagede
Ternyata di Kotagede malah lebih gawat dibanding di Yogya. Insiden terjadi ketika PKI mencoba mengadakan rapat umum propaganda 14 Desember 1924, banyak aktifis Muhammadiyah yang hadir. Mereka merencanakan menghalangi rapat, mengingat dalam rapat umum tersebut banyak orang-orang Islam awam yang hadir.
Aktifis-aktifis Muhammadiyah menghendaki agar orang-orang Islam keluar meninggalkan tempat, jangan mendukung PKI. Muncul sedikit ketegangan antara keduanya, tetapi akhirnya aktifis-aktifis Muhammadiyah gagal menghalangi jalannya rapat.
Aktifitas PKI berkembang di masa revolusi sampai PKI gagal melakukan pembrontakan yang pertama di Madiun tahun 1948. Pembrontakan itu diampuni oleh Soekarno setelah beliau membaca makalah DN Aidit (27) tentang peristiwa itu. Nama baik PKI direhabilitir di kancah perpolitikan Nasional.
Di tahun 1962-1964, di pendopo nDalem Sopingen Kotagede setiap malamnya diselenggarakan latihan tari-tarian rakyat juga pementasan yang dilakukan oleh LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat). Ini merupakan salah satu unsur gerakan PKI yang memanfaatkan media budaya tradisional untuk tujuan propaganda. Dalam pementasan tari itu muncul garapan tari-tarian rakyat yang bersifat perlawanan, sebagaimana : tari buruh, tari tani, tari bagi hasil, tari anjangsana dan tari blonjo warung.
Kalau pas latihan tari bondan, penari wanita mengemban boneka anak, berpayung dan siap menaiki kendi, penari wanita tersebut selalu menanyai anaknya yang berupa boneka : “Suk gede arep dadi opo, nduk ?” Didukung koor para pengrawit, penonton serentak menjawab : “Dadi Gerwani !”
Di tahun 1960 an-1970 an, gerakan Muhammadiyah, juga ortom-ortomnya juga banyak menggelar acara pentas seni di pendopo nDalem Sopingen. Setiapkali pentas seni, tidak lupa selalu menyisipkan demontrasi olahraga pencaksilat Senopati pemuda Muhammadiyah Kotagede. Baik permainan jurus maupun pertarungan, dan selalu digairahkan oleh komentator yang mengomentari jurus-jurus yang berseliweran.
Pernah juga Pelajar Islam Indonesia (PII) Kotagede menggelar bazaar, hal yang kreatif dan futuristik muncul pada stand foto satu detik jadi. (camera polaroid belum digagas ketika itu). Pengunjung bazaar satu persatu digiring masuk ke ruang stodio foto setelah mengantongi tiket. Pengunjung disuruh berpose sesuka nya di depan tirai kejutan. Ada peralatan tata lampu tapi tidak nampak sosok camera secuil pun. Petugas memberi aba-aba, 1…,2…..3, sambil menyingkap tirai kejutan. Tirai tersibak nampak cermin besar dan pose gambar orang yang muncul di cermin tersebut, itulah orang yang tertipu kesekian kalinya. Seseorang pengunjung stand yang tertipu keluar ruang stodio foto sambil terbahak-bahak. Sebuah penipuan yang menghibur.
Di pendopo ndalem Sopingen juga pernah untuk pentas-pentas drama lokal Kotagede, seperti pentas teater Iqbal nya PII Kotagede. Pernah juga pentas apresiasi Teater Alam nya Azwar AN, dengan lakonnya Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek karya Danarto. Partai Nasionalis Indonesia juga pernah mementaskan tari-tarian Bagong Kusudihardjo sepulang dari Amerika dengan tari-tarian garapan baru, dimeriahkan juga dengan reog Ponorogo, serta pada kesempatan yang lain pentas tari dari kelompoknya Wisnu Wardhana.
Di bidang olahraga, di halaman depan pendopo ndalem Sopingen ada lapangan badminton. Ada malam-malam tertentu untuk netplay, begitu masyarakat Kotagede dulu menyebut latihan bulutangkis di malam hari. Dan sebagai penanda adanya netplay malam itu, selalu ada orang yang memikul lampu strongking, yang dimaksud lampu petromat merknya strongking.
Lampu petromat bentuknya terjungkir, tangki minyaknya berada di atas lampunya di bawah berbentuk kerucut seperti jantung pisang. Lampu-lampu itu dipikul dari tempat persewaannya di kampung Bumen milik bapak Murthung, melintas depan pasar Kotagede menuju Sopingen. Jalan-jalan yang dilewati akan menyala benderang dan terdengat suara desis gas yang terbakar dari mesin petromat. Dan selalu saja orang-orang yang senantiasa nongkrong di depan pasar Kotagede yang dilewati desis mesin petromat akan berkomentar : “Wah, mesthi ono netplay neng Sopingen, iki.”
Dari netplay, even-even badminton tingkat Kotagede digelar di lapangan depan pendopo Sopingen. Suharno, pemuda nDarakan Kotagede, 6 kali juara tunggal putra se Kotagede. Sampai bosan juara terus lantas tinggal di Panembahan, datang lagi ke Kotagede mengikuti even badminton juara lagi. Seterusnya mahkota juara tunggal putra Kotagede berurutan diteruskan oleh : M Hadief pemuda Boharen, Suyanto (Pethek) pemuda Jagalan, Ipuk Subagyo, pemuda Bodon.Parsidi, pemuda Prenggan Di samping tunggal putra, juga menghasilkan tunggal putri terbaik, dobel putra, putri dan campuran. Pernah juga Sopingen menghadirkan Theresia Widyastuti salah seorang tim Uber Cup tahun 1970 an, melakukan eksibisi dengan juara ganda putra terbaik Kotagede.
Semenjak tahun 1984, nDalem Sopingen telah diwariskan kepada ketiga anak keturunan R. Amat Dalem Sopingi, masing-masing menempati bagian-bagian samping bangunan, sedangkan bagian tengah tetap difungsikan sebagai fasilitas publik. Dan, sejak tahun 1990 an bangunan pendopo bagian yang termasuk fasilitas publik itu telah dijual.
Karena fungsinya di masa lalu cukup penting, ndalem Sopingen mampu membentuk toponim lokal, meski terbatas. Semenjak bangunan kayu pendopo itu dijual pemiliknya, Sopingen seperti kehilangan aura tinggal monumen kenangan sebuah kedigdayaan aktifitas ruang publik yang mampu menampung siapa saja yang bisa memanfaatkan.
Kini, sebagai ruang publik Sopingen tidak berdaya, tidak mampu mengenang masa lalunya, tidak sempat mencatat peristiwa-peristiwa indah yang pernah dialami. Bahkan tidak mampu membela dirinya sendiri di hadapan jaman.
Dokumentasi Living Museum Budaya Kotagede
-
-
-
-
Belum Ditetapkan
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Yogyakarta
Kotagede
Prenggan
-
-
-
Dusun Jalan
Yogyakarta
Kotagede
Prenggan
Jalan Trunojayan Kidul Jalan Mondorakan
-
-
-
-
Baik
-
Baik
-
Baik
-
Tidak ada gambar.
Tidak ada video.
-
| Tahun Data | : | 2019 |
| Terakhir Update | : | 04 April 2012 - 12:45:46 |