Ki Anom Sucondro
Kulonporgo
03 Juli 1975
Seni Pertunjukan
Hidup
-
Kulonprogo
Girimulyo
Jatimulyo
-
Dalang
Tingkat Provinsi dan Nasional
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak ada gambar.
Tidak ada video.
Ki Anom Sucondro lahir di Kulon Progo, 3 Juli 1975. Ia dikenal sebagai seniman di bidang pedalangan dan musik campursari. Kepekaan dan pengabdiannya dalam dunia adiluhung pedalangan terasah dari pendidikan otodidak orang tuanya dan kakeknya yang juga dalang. Kakeknya Mbah Jogoyudo dan ayahnya Cipto Subali adalah dalang yang cukup terkenal pada masanya. Pembelajaran secara langsung dan turun temurun merupakan sarana efektif dalam pendewasaan cara pandang seni Anom Sucondro. Inspirasi pengembangan perspektif dunia dalang juga didapat Anom Sucondro dari dalang Ki Narto Sabdo dan RM Riyo Cipto Sasongko. Namanya mudah dikenal karena ia suka berkelana mendapatkan tanggapan pertunjukan dari kampung ke kampung. Apalagi dalam perkembangannya musik campursari sangat melekat di hati masyarakat melebihi dunia pedalangan. Sosialisasi melalui musik campursari inilah yang membuat Anom Sucondro semakin bersinar namanya. Masyarakat pun lebih mudah menerima dan memahami kesenian berupa musik ketimbang harus lama menonton wayang. Integritasnya dalam menekuni dunia dalang semakin teruji dengan kemauannya mengikuti festival seni yang digelar oleh sejumlah pihak misalnya pemerintah. Event seperti Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) rutin ia ikuti. Membuktikan kontribusi keseniannya yang begitu besar. Keseriusannya dalam dunia seni tradisi baik campursari maupun pedalangan sudah terlihat semenjak remaja, misalnya ketika terpilih menjadi Penyaji Terbaik Festival Dalang Remaja pada event FKY 2004. Hal ini membuktikan komitmen keseniannya yang begitu kuat. Beruntung ia juga menjadi kepala dusun. Posisinya sebagai kepala dusun lebih memudahkan masuk ke kampung-kampung menyosialisasikan seni tradisi. Ia kerap mengisi acara seperti merti dusun, saparan, dan sebagainya. Apalagi ia dikenal fleksibel. Baginya, pertunjukan wayang di era kini bisa tidak perlu mengenal waktu. Bisa siang ataupun malam. Jalan nguri-uri budaya bisa tidak mengenal waktu. Namun tetap kompromis dengan kultur setempat. Profesinya selain seniman yang juga kepala dusun memudahkan dirinya akrab dengan masyarakat sehingga tidak ada jarak yang begitu berarti dalam terus menyosialisasikan karya seni. Dukungan masyarakat pun begitu besar kepadanya.
| Tahun Data | : | 2019 |
| Terakhir Update | : | 13 Desember 2019 - 17:10:01 |