Tokoh Seniman / Budayawan

Iman Soetrisno


General

Iman Soetrisno

Cilacap

27 Mei 1936

Seni Pertunjukan

Hidup

-

Alamat

Yogyakarta

-

(tidak diinput)

-

-

-

Dusun Panggung KP IV/96 Sompilan Jalan -

Keterangan Lain

-

-

Tingkat Provinsi dan Nasional

-

-

Penghargaan
Kabupaten

-

-

-

Provinsi

-

-

-

Nasional

-

-

-

Gambar/ Video
GAMBAR

Tidak ada gambar.


VIDEO

Tidak ada video.

Keterangan Tambahan

Iman Soetrisno lahir di Sidareja, Cilacap pada 27 Mei 1936 dari ayah Mas Muhammad Iman. Ia adalah tokoh teater dan perfilman. Secara formal, Iman menamatkan Sekolah Rakyat di Sidareja tahun 1943, lalu ia melanjutkan studi di Taman Dewasa Purworejo tahun 1949. Tahun 1952 melanjutkan sekolah di Taman Madya Gading Yogyakarta. Pada waktu itu, peringatan ulang tahun proklamasi kemerdekaan. Iman Soetrisno kecil terpesona dengan pentas teater Sumpah Gadjah Mada. Pementasan itu dilakukan oleh Sekolah Drama dan Film. Secara formal ia belajar seni kepada Sri Murtono di Sekolah Drama dan Film (SSDF) tahun 1953, kemudian dilanjutkan ke Asdrafi. Tahun 1954, SSDF mementaskan drama Raja Sehari, karya Sri Murtono. Pada saat itu kesempatan Iman Soetrisno bisa menampilkan kemampuannya meski sebagai pemeran pembantu. Pertama kali tampil yang sesungguhnya, adalah ektika mementaskan Nona Mariyam karya Kirdjo Mulyo produksi Fakultas Sastra Pedagodik dan Filsafat UGM tahun 1955. Dilanjutkan melalui produksi Teater Indonesia tahun 1957 dengan judul Selubung Lampu. Lakon tersebut saduran Soebagio Sastro Wardoyo dari naskah berjudul Streetcar Named Desire karya Tennese Williams. Dalam film itu Iman Soetrisno memerankan tokoh utama, Marlon Brando. Karena suksesnya pentas itu dalam ulasan Majalah Aneka tahun 1958, menulis Iman Soetrisno sebagai Marlon Brando Yogya. Fakultas SPF UGM pada waktu itu mempunyai tradisi tahunan mementaskan drama. Tahun 1953 berjudul Acoka Wardhana, tahun 1954 berjudul Ratna. Sejak itu Iman Soetrisno selalu tampil menunjukkan kemahiran aktingnya pada lakon Nona Mariyam (1955), Penggali Intan (1957), Selubung Lambu (1958) dan Hartati (1959). Iman Soetrisno merasa mendapatkan momentumnya pada pementasan Penggali Intan (1957), Selubung Lambu (1958). Keduanya melambungkan namanya karena diulas di majalah-majalah nasional dan internasional. Namanya disejajarkan dengan maestro-maestro lain seperti Heru Sutopo, AS Hazadji, M. Nizar, Ramadhan KH, SM Ardan, Abdullah Sidik dan lain-lain. Penulis naskah Kirdjomuljo dan kelompok yang kemudian akrab dengan sebutan kelompok Suryamadjan ini menjadi langganan pemerannnya. Mereka menggarap lakon-lakon film hingga tahun 1995-an. Di antara berjudul Surat Pada Gubernur karya saduran Muhammad Diponegoro, Drama Kematian, Pekan Raya 200 tahun Kota Yogyakarta, Malam Pengantin di Bukit Kera, dan lain-lain.

Tahun Data : 2019
Terakhir Update : 13 Desember 2019 - 16:02:46