Arisita Pinandita
Yogyakarta
01 Januari 1980
Seni Rupa
Hidup
-
Yogyakarta
-
(tidak diinput)
-
-
-
Dusun Jalan
-Modern School
of Design (MSD)
-Institut Seni Indonesia
(ISI) Yogyakarta Menyelesaikan pendidikan
magister di Pascasarjana ISI Yogyakarta
tahun 2013
kurator pameran seni
rupa, dan staf pengajar di Sekolah Tinggi Seni
Rupa dan Desain (STSRD) Visi Yogyakarta
Tingkat Provinsi dan Nasional
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak ada gambar.
Tidak ada video.
Sebagai kurator, Arsita pernah menjadi koordinator program pameran
seni rupa Festival Kesenian Yogyakarta tahun 2014-2018. Gagasan yang dibawa
pada pameran tersebut adalah menyandingkan karya-karya antara seniman
senior dengan seniman muda, bahkan mahasiswa. Arsita adalah Koordinator
Program Equator Festival dan Parallel Event Biennale Jogja XIII Equator #3
tahun 2015. Bersama Sujud Dartanto, Irene Agrivina, Rain Rosidi, dan Farid
Stevy Asta, menjadi kurator dalam pameran Nandur Srawung #5: Bebrayan
D.I.W.O (Do it With Other) tahun 2018 di Taman Budaya Yogyakarta.
Dito gemar membicarakan konten visual dalam ranah subkultur. Acapkali
menjadi penulis dalam berbagai pergelaran kesenian, diantaranya “Jogja
Art Scene” di Benteng Vredeburg tahun 2010. “Dekaden Death Metal,”, di
Pascasarjana ISI Yogyakarta tahun 2012. “Lapar Mata” di Jogja Gallery, tahun
2013. “Quality in Time” tahun 2014 di Klick. Dalam profil dirinya yang termuat
di katalog Biennale Jogja XIII Equator #3 tahun 2015, Festival Equator adalah
bagian dari Biennale Jogja, dengan harapan mewadahi berbagai potensi
keberagaman potensi artistik di Jogja. Rangkaian dari program ini adalah
panggung literasi selatan, festival tanah “Lemahku, Kekuatanku”di Giripeni,
Kulon Progo, Koalisi Cakrawala di Yogyatorium, dan pendidikan seni dan
estetika “Guru Penyebar Seni” di pascasarjana ISI jogja. Dito meyakini bahwa
jika kita memiliki seni, maka kita tidak perlu larut dalam realitas.
Selain berkutat dengan berbagai pameran seni rupa, dirinya juga
memiliki ketertarikan terhadap subkultur, khususnya musik punk-rock
semenjak duduk di bangku sekolah menengah. Maka tidak mengherankan jika
dirinya pernah menulis buku bersama John Martono, yang berjudul “Punk!:
Fesyen-Subkultur-Identitas”, yang terbit tahun 2009. Buku ini didominasi
oleh gambar ilustrasi. Maka pembaca akan mendapat gambaran langsung
mengenai konteks subkultur punk dalam tulisannya.
| Tahun Data | : | 2019 |
| Terakhir Update | : | 13 Desember 2019 - 13:36:38 |