Tokoh Seniman / Budayawan

Ida Wibowo


General

Ida Wibowo

Yogyakarta

23 November 1955

Seni Pertunjukan

Hidup

-

Alamat

Bantul

Kasihan

Tamantirto

-

-

-

Dusun Kembaran Jalan Padepokan Tari Bagong Kussudiardjo

Keterangan Lain

ASTI Yogyakarta

Penari

Tingkat Provinsi dan Nasional

-

-

Penghargaan
Kabupaten

-

-

-

Provinsi

-

-

-

Nasional

-

-

-

Gambar/ Video
GAMBAR

Tidak ada gambar.


VIDEO

Tidak ada video.

Keterangan Tambahan

Ida Wibowo lahir di Yogyakarta, 23 November 1955, dengan nama Ida Manu Tranggana. Ia adalah putri sulung Bagong Kussudiarjo. Sebagai putri sulung sang maestro, tentu ia diuntungkan karena dibesarkan di keluarga dan lingkungan seniman. Bagong yang terkenal sebagai pembaharu seni tari di Indonesia itu, sudah mengajari seni menari kepada Ida sejak kecil. Tidak heran, pentas perdananya di usia 8 tahun sudah menarik perhatian. Sejak SD hingga SMA, Ida sudah piawai menyabet berbagai kejuaraan. Ida muda belajar di PLT Bagong Kussudiarjo, dilanjutkan ke Kridha Beksa Wirama tahun 1963. Setelah lulus SMA, Ida melanjutkan ke Akademi Seni Tari (ASTI) Yogyakarta pada tahun 1975. Istri dari Edhie Wibowo ini bersyukur atas bimbingan ayahnya yang membentuk jati dirinya. Ia penuhu kedislipinan dan kesungguhan setiap latihan hingga pementasan. Memang Ida selalu dalam bayang-bayang  nama besar ayahnya, namun itu justru menambah semangatnya untuk berkreasi.  Di antara garapan Ida Wibowo adalah Tari Kelana Panji, Retna Lelewa, Kebebasan, Monumen, Pertentangan, Kyai Gumarang, Tirta Amerta, Rara Ngigel, Srikandhi Maguru Manah, Lepas Utas, Sesel, Wanita Saling, Shinta, Barangan, Liang-liang, Kebyar, Puspita, Mangalad, Sketsa, Aku, Das, Deling, Angenan dan lain-lain. Garapan tari Kyai Gumarang (1978), mendapat penghargaan sebagai penyaji terbaik dalam Festival Sendratari se-DIY. Kemudian tari Shinta, mendapat apresiasi dalam Pekan Penata Tari Muda di Jakarta tahun 1984. Tari Mangalad menjadi juara pertama Festival Tari Kreasi Baru tingkat nasional di Jakarta tahun 1987. Tari Barangan diapresiasi sebagai penyaji artistic terbaik sekaligus penata tari terbaik dalam parade tari daerah tingkat nasional di TMII Jakarta tahun 1995. Langen carita Nitisedya yang digarapnya tahun 1996 meraih penghargaan sebagai penari wanita terbaik dan juara pertama festival tari daerah langen carita se Yogyakarta. Dan masih banyak lagi apresiasi dan penghargaan yang diterima Ida baik secara pribadi maupun tim. Pengalaman berkesenian di berbagai festival lebih mematangkan Ida. Ia sempat melanglang buana ke Eropa, Asia dan Amerika. Ia pun  keluar masuk ke daerah-daerah di Indonesia. Antara lain dalam festival kesetian ABRI (1985), parade pembukaan Festival Film Indonesia (1984), parade Pembukaan Festival Film Asia Pasific (1986), Sea Games Kuala Lumpur dan Foklhor Festival (1988), Indonesian Dance Festival (1992).

Tahun Data : 2019
Terakhir Update : 13 Desember 2019 - 10:12:36