Bimo Wiwohatmo
Yogyakarta
01 Januari 1957
Seni Pertunjukan
Hidup
-
Yogyakarta
-
(tidak diinput)
-
Penari
Tingkat Internasional
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak ada gambar.
Tidak ada video.
Bimo Wiwohatmo lahir di Yogyakarta tahun 1957. Ia adalah penari kawakan Jogjakarta. Ia menempuh Pendidikan di SSRI di Yogyakarta. Ketenarannya kemudian ternyata sebagai seorang penari yang sangat dikenal di Jepang, Korea dan Singapura. Ia mendalami seni tari dan banyak menciptakan tari kreasi baru. Keunikannya adalah bahwa ia memanfaatkan benda pembantu yang seringkali tak terduga, misalnya selembar kain sarung, satu topeng, satu lembar selendang, dengan gerakan-gerakan yang sangat unik dan menggelitik. Bimo Wiwohatmo mengenal tari sejak usia 7 tahun dengan dasar tari klasik tradisi Jawa, sejak masa anak-anak pula Bimo sering terlibat dalam pementasan wayang orang yang membutuhkan peran anak-anak dalam episode Mahabarata ataupun Ramayana. Pada tahun 1979, dia belajar seni tari di Padepokan Seni di Yogyakarta, atas bimbingan Bagong Kussudiardjo dan selanjutnya aktif sebagai penari pendukung dalam berbagai karya Bagong Kussudiardjo baik di dalam maupun di luar negeri. Tiga belas tahun kemudian, Bimo dan teman-teman mendirikan sebuah komunitas tari bernama Bimo Dance Theater dan sejak itu hingga kini, karyakarya koreografinya sering ditampilkan di berbagai forum seni Nasional dan International. Selama 22 tahun karena kecintaannya, Bimo Wiwohatmo hingga kini telah mencipta sebanyak 35 karya koreografi yang sudah dipentaskan. Karya tari pertama Bimo adalah “Komposisi No” dan dilanjutkan dengan “Kubuskubus” pada tahun 1985. Hasil koreografinya memang menawarkan inovasi baru, karena ia sangat senang bereksperimen dalam sisi visual panggung. Latar belakang pendidikannya di Seni Rupa tak lenyap begitu saja, justru memperkuat karya-karya koreografinya. Ia biasanya berangkat dari inspirasi panggung dan lighting, baru kemudian bersama penari menciptakan gerak. Kreativitas Bimo Wiwohatmo tidak sia-sia, setelah namanya melambung di dunia tari internasional, ia pun mulai bergerak untuk menggelar sebuah festival tari internasional di Yogyakarta. Lahirlah “Interaction: Asian Modern Dance” di tahun 1998, yang telah melibatkan koreografer dari Jepang, Singapura, Malaysia, dan tahun ini akan memperluas jaringannya dengan penari Kanada dan Jerman. Inilah satu-satunya acara tari internasional di Yogyakarta.
| Tahun Data | : | 2019 |
| Terakhir Update | : | 12 Desember 2019 - 19:23:21 |