Ashadi Siregar
Pematang Siantar, Batak
03 Juli 1945
MPU Sastra DIY
Hidup
-
Sleman
Ngaglik
Minomartani
Ashadi Siregar telah merantau ke Yogyakarta pada waktu memasuki kuliah di Jurusan Ilmu Publisistik/Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada pada tahun 1970.
Proses penggalian inspirasi menulisnya, Ashadi menceritakan bahwa “Saya tidak pernah tau darimana awal inspirasi itu datang karena tidak bisa diduga dan datang begitu saja, namun memang setting yang lebih dulu ada memacu saya untuk berimajinasi dalam membuat cerita”.Sejak merantau di kampus biru, setting nuansa kampus kental pada setiap karya-karya Ashadi Siregar yakni Kugapai Cintamu (1974), Terminal Cinta Terakhir (1976), Sirkuit Kemelut (1976), Warisan Sang Jagoan (!976), Sunyi Nirmala (1982). Novel-novel tersebut menggambarkan berbagai polekmik tidak saja asmara namun juga syarat dengan kehidupan sosial para mahasiswa.
Karir sebagai seorang Novelis nyatanya juga mendorong Ashadi Siregar untuk berdedikasi berbagi ilmu dalam berbagai langkah.Ashadi Siregar menjadi pengajar di Fakultas Sosial dan Politik (1970-2010), pengajar dan peneliti media (jurnalisme, televisi, dan film), pembicara/penceramah seminar media, kebudayaan dan LSM, Research fellow, Studio Audio-Visual Media for Social Sceience, Departement of Anthropology, University of South Carolina, USA, Pengajar tamu pada Fakultas Media Rekam Institute Seni Indonesia Yogyakarta,serta Pengajar tamu pada program Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
Aktivasi di dunia pengajaran juga dibarengi oleh Ashadi Siregar dalam berbagai aktivitas jurnalistik yang diikuti. Dimulai pada tahun 1968 sebagai Redaktur Mingguan Republica, Pemimpin redaksi/Penanggungjawab Mingguan Sendi Yogyakarta (1972-1973), Stringer Majalah Tempo Jakarta untuk Yogyakarta (1973), Redaktur Ahli Majalah JURNAL, Pasar Modal Indonesia, Jakarta (2000), Advisor Komunitas Publik Indonesia (KTVPI)(2000-2001))
Tingkat Provinsi dan Nasional
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak ada gambar.
Tidak ada video.
ASHADI SIREGAR
MPU SASTRA DIY
“Saya tidak tahu, cerita saya dapat menginspirasi banyak anak muda untuk berbeondong-bondong melanjutkan pendidikan di Yogyakarta”
Ashadi Siregar
Jalan Gurameh Raya No 4, Minomartani, Ngaglik, Sleman, D.I.Yogyakarta 55281
https://ashadisiregar.com/./ashadisr@gmail.com
Ashadi Siregar, membawa arus perubahan sosial besar di Daerah Istimewa Yogyakarta memalui karya sastra yang dibuat. Ashadi yang dikenal sejak tahun 1970-an melalui karya “Cintaku di Kampus Biru” sukses menciptakan arus balik minat pendidikan bagi para kalangan muda di Indonesia. Orang mulai berbondong-bondong untuk berangan-angan menimba ilmu di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sosok Ashadi Siregar lahir pada 3 Juli 1945 di Pematang Siantar.Meskipun lahir dalam keluarga Batak, namun Ashadi Siregar telah merantau ke Yogyakarta pada waktu memasuki kuliah di Jurusan Ilmu Publisistik/Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada pada tahun 1970.
Dalam proses penggalian inspirasi menulisnya, Ashadi menceritakan bahwa “Saya tidak pernah tau darimana awal inspirasi itu datang karena tidak bisa diduga dan datang begitu saja, namun memang setting yang lebih dulu ada memacu saya untuk berimajinasi dalam membuat cerita”.Sejak merantau di kampus biru, setting nuansa kampus kental pada setiap karya-karya Ashadi Siregar yakni Kugapai Cintamu (1974), Terminal Cinta Terakhir (1976), Sirkuit Kemelut (1976), Warisan Sang Jagoan (!976), Sunyi Nirmala (1982). Novel-novel tersebut menggambarkan berbagai polekmik tidak saja asmara namun juga syarat dengan kehidupan sosial para mahasiswa.
Karir sebagai seorang Novelis nyatanya juga mendorong Ashadi Siregar untuk berdedikasi berbagi ilmu dalam berbagai langkah.Ashadi Siregar menjadi pengajar di Fakultas Sosial dan Politik (1970-2010), pengajar dan peneliti media (jurnalisme, televisi, dan film), pembicara/penceramah seminar media, kebudayaan dan LSM, Research fellow, Studio Audio-Visual Media for Social Sceience, Departement of Anthropology, University of South Carolina, USA, Pengajar tamu pada Fakultas Media Rekam Institute Seni Indonesia Yogyakarta,serta Pengajar tamu pada program Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
Aktivasi di dunia pengajaran juga dibarengi oleh Ashadi Siregar dalam berbagai aktivitas jurnalistik yang diikuti. Dimulai pada tahun 1968 sebagai Redaktur Mingguan Republica, Pemimpin redaksi/Penanggungjawab Mingguan Sendi Yogyakarta (1972-1973), Stringer Majalah Tempo Jakarta untuk Yogyakarta (1973), Redaktur Ahli Majalah JURNAL, Pasar Modal Indonesia, Jakarta (2000), Advisor Komunitas Publik Indonesia (KTVPI)(2000-2001))
Dedikasi yang tak perlah lelah diperjuangkan seorang Ashadi Siregar mendapat berbagai apresiasi penghargaan diantaranya (1)Pemenang Harapan Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta untuk cerita Warisan Sang Jagoan (1972);(2)Medali Satyalancana Karya Satya XX Tahun, Presiden RI (1999);(3)Medali Piagam Pengharaan Kesetiaan, Rektor Universitas Gadjah Mada (1999);(4)Medali Satyalancana Karya Satya XXX Tahun, Presiden RI (2007);(6)Press Card Number One, Penghargaan Panitia Pusat Hari Pers Nasional, Persatuan Wartawan Indonesia Pusat (2010);(7)Cendekiawan Berdedikasi, Penghargaan Kompas (2018);(8)Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan, Presiden RI (2018).
Hingga pada tahun 2018 ini, Ashadi Siregar telah mencatatkan diri pada dunia sastra dengan 13 buku novel yang diterbitkan sebagai karyanya, 8 buku akademik yang diterbitkan atas namanya, 8 buku yang diterbitkan oleh keterlibatannya sebagai penyunting, karya artikel buku/jurnal/brosur sebanyak 67 artikel, 4 novel karya yang menginspirasi dan difilmkan, 3 novel karya yang difilm-telivisikan, dan 6 episode televisi seri yang juga terinspirasi dari karya novel seorang Ashadi Siregar. Tahun 2018, Ashadi Siregar juga produktif meluncurkan karya terbaru yakni “Menolak Ayah”. Sebuah novel yang menjadi pijakan kerinduan Ashadi akan kampong halaman beliau. Meskipun novel ini berbeda dari karya-karya sebelumnya mengenai dunia kampus, namun novel ini dapat menjadi referensi bagi mereka yang ingin mendalami etnografi Batak.***
Anis Izdiha
Koordinat UTM: S 7°44'51,24588" E 110°24'23,14116"
| Tahun Data | : | 2019 |
| Terakhir Update | : | 12 Desember 2019 - 08:04:34 |