Juwaraya
Bantul 5 Juni 1954
05 Juni 1954
Langencarito
Hidup
-
Bantul
Kasihan
Bangunjiwo
-
(1) Pemain kethoprak; (2) Sutradara;(3) Penulis Naskah;(4) PNS Dinas Pendidikan & Budaya Bantul
Tingkat Kabupaten
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak ada gambar.
Tidak ada video.
Koordinat UTM: 7.8838197 110.339410
Juwaraya, adalah seniman yang lahir di Bantul, 5 Juni 1954. Pendidikan formalnya hanya sampai SMA. Namun, anak terakhir dari empat bersaudara ini merupakan seniman serba bisa. Betapa tidak, dari membuat naskah, sutradara, pencipta tembang, pelatih, sampai kostum dan tetek bengek keperluan pementasan lainnya ia kuasai dengan matang. Semua keahliannya itu ia salurkan untuk kesenian Tari Mandrawanaran di Kelompok Langen Mudha Mandra Budhaya yang di dalamnya juga ia dipilih sebagai ketuanya. Sebagai seorang seniman Mandrawanaran, Juwaraya memang berasal dan besar di lingkup ini. Selain ayahnya yang pelaku Mandrawanaran, kakeknya pun tak sedikit mewariskan ilmu kepadanya. Sedari kecil, Jiwaraya sudah akrab benar dengan gerak tari, tembang maupun gending-gending Jawa untuk Mandrawanaran. Juwaraya sudah menelurkan beberapa naskah pentas untuk kelompok Langen Mudha Mandra Budhaya. Di antaranya adalah Rama Tambak, Wiru Peksa Lena, Prahasta Lena, Anggada Dutha, Senggono Dutha, Dewa Tamtaka Lena, Trisirah Lena, Triangga Takon Bapa, Trianggo Takon Maleng, dan Trianggo Ngenger. Ia pernah membina Mandra Budhaya dan juga pernah tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Dinas Pendidikan dan Budaya Kabupaten Bantul. Kiprah Juwaraya di antaranya, ia pernah aktif menghidupkan Sanggar Ayodya bentukan Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) Komda Bantul pada tahun 2009. Sanggar tersebut adalah tempat pembelajaran pakeliran pedalangan bagi anak-anak usia SD dan SMP, yang bertempat di Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Mereka diampu oleh dua ‘dwija’ atau guru yaitu Ki Alip Biyono, S.Sn., lulusan Pedalangan ISI Yogyakarta dan Ki Juwaraya. Ki Alip bertanggung jawab keseluruhan atas keberlangsungan proses belajar mengajar pakeliranpedalangan. Sedangkan Ki Juwaraya selain sebagai tuan rumah, membantu mengajar suluk dan antawacana. Mereka berdua membimbing dan mengajar dengan ketulusan dan kecintaan. Tidak dibayar. Salah satu reputasi Sanggar Ayodya yaitu menggelar pentas wayang kulit purwa semalam suntuk dengan lakon cerita “Semar Gugat” yang dibawakan oleh dalang Ki Alip Biyono.
| Tahun Data | : | 2019 |
| Terakhir Update | : | 13 Desember 2019 - 16:06:35 |