Upacara Adat

Saparan Kali Buko


General

Saparan Kali Buko

-

Aktif

-

Imanudin Subakir

-

-

-

Penetapan WBTB
Kabupaten

-

-

-

Provinsi

-

-

-

Nasional

-

-

-

Internasional

-

-

-

Penghargaan
Kabupaten

-

-

-

Provinsi

-

-

-

Nasional

-

-

-

Lokasi

Kulonprogo

Kokap

Kalirejo

Dusun Kali Buko I Jalan -

-

-

-

Keterangan Lain

-

-

Tidak Ada

Tidak Ada

Tidak Ada

-

Tidak Ada

Selasa Kliwon atau Jum'at Kliwon

Sebatur Kalibuko I

-

Milik Sendiri

Sedang

Sesaji, Tenong

Milik Sendiri

Sedang

< 1000

Masyarakat

Sunan Kalijaga dan pengikutnya

Ungkapan syukur kepada Tuhan atas rejeki yang telah diterima dan memohon kesejahteraan lahir dan batin bagi warga masyarakat.

Memupuk kebersamaan, meningkatkan tali silaturahmi di antara warga masyarakat dan mengelola kelestarian lingkungan desa

Upacara Saparan Kalibuka menurut ceritanya diawali dari kisah perjalanan para Wali ke arah Selatan. Pada waktu itu, mereka berhenti di tempat yang datar dan rata untuk berbuka puasa. Sunan Kalijaga berkata, "Sesuk nek ana rejaning jaman, tak jenengake desa Walibuka." (besok jika ada kesejahteraan zaman, tempat ini saya sebut desa Walibuka). Biasanya orang makan meninggalkan sisa nasi yang tercecer, yang disebut upa dalam bahasa Jawa. Upa tadi tumbuh menjadi pohon-pohon besar yang ada di Sebatur, tempat penyelenggaraan upacara. Di samping pohon, juga terdapat rumpunan bambu yang oleh penduduk Kalibuka disebut Pring Gedhe. Tumbuhan bambu tersebut berasal dari tusuk (sujen) sate para wali. Pring Gedhe terletak di sebelah timur wilayah Sebatur, yang dipagari bambu dan diganti pagarnya bersamaan dengan Saparan Kalibuka. Upacara Saparan Kalibuka diselenggarakan pada hari-hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon yang diawali dengan membersihkan tempat upacara dan jalan menuju ke sana di Sebatur. Pada malam harinya diadakan tahlilan dan tirakatan di Sebatur. Esok harinya, penduduk Kalibuka menyembelih kambing kedit (wedhus kendhit), diambil kulit dan dagingnya untuk dimasak para lelaki dusun di Sebatur, dan tidak boleh dicicipi. Kepala kambing dibawa ke Balai Desa Kalireja untuk dikirab menuju ke Sebatur dengan diiringi tenong berisi sesajian dan kesenian khas Kulon Progo dan Slawatan untuk menolak bala. Sesajian yang disertakan adalah: - Kupat Lepet, yang bermakna segala kesalahan dimaafkan oleh Yang Maha Agung, - Sega Golong, yang bermakna agar jiwa seluruh keluarga selamat, - Lauk pauk pelengkap, agar apa yang dihajadkan terkabul, - Pisang Raja, sebagai persembahan kepada Yang Maha Agung, - Nasi Wuduk, yang ditujukan untuk nabi Muhammad SAW, - Ingkung Ayam, sebagai penyucian warga dusun dari segala kesalahan, - Kambing (wedhus kendhit), sajian pokok untuk mengenang perayaan buka puasa para Wali lauk sate kambing. Sesampainya di Sebatur, kepala kambing ditanam dan kemudian diadakan kenduri, sedangkan kaki kambing ditanam di empat penjuru Sebatur. Doa-doa diucapkan oleh Rois agar diberi keselamatan bagi seluruh penduduk Dusun Kalibuka. Tugas juru kunci adalah membakar kemenyan dan mohon perlindungan dari dhanyang Kalibuka yang ngreksa pundhen Sebatur, antara lain Kentol Bausetika dan Nyai Kentol Ngamben. Setelah kenduri, seluruh peserta upacara mengakhiri Saparan Kalibuka dengan makan bersama.

Gambar/ Video
GAMBAR

Tidak ada gambar.


VIDEO

Tidak ada video.

Keterangan Tambahan

No. Registrasi : 20132010003311
Nama Karya Budaya : Tradisi Saparan Kalibuko
Provinsi : DI Yogyakarta
Domain : Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan
Kategori : Upacara/Ritus

 

Upacara dilakukan dengan tahlilan yang bertujuan memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kesalahan dan memohon keselamatan. Sesaji yang harus disediakan yaitu kupat lepet, nasi golong, lauk pauk, pisang raja, nasi uduk (nasi rasul), wedhus kendhit, dan kesenian slawatan. Acara dimulai dengan berkumpul di balai desa lalu menuju tempat upacara dengan arak-arakan. Arak-arakan ini dimaksudkan sebagai tolak balak.

Tahun Data : 2019
Terakhir Update : 20 Februari 2018 - 08:20:57