Sedekah Laut Poncosari / labuhan Nelayan Mina Samodra
-
Aktif
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bantul
Srandakan
Poncosari
Dusun Ngentak Jalan -
-
-
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
-
Ada
hari minggu pertama di bulan Syawal
-
-
Milik Sendiri
Sedang
Perahu tempel dipakai untuk membawa sesaji yang akan dilabuh ke tengah laut, Ancak, dari belahan bambu yang dianyam dengan bentuk segi empat untuk tempat sesaji, Jodhang, tampah/tambir, pengaron, takir, dan ceketong
Milik Sendiri
Sedang
< 1000
Masyarakat
Kanjeng Ratu Kidul atau Nyai Roro Kidul
Memohon keselamatan dari segala mara bahaya yang mengancam para nelayan seperti adanya ombak besar, angin besar, dan diberi penghasilan ikan yang melimpah. Sedekah Laut tersebut juga dimaksudkan sebagai rasa syukur atas hasil tangkapan para nelayan.
Mendekatkan diri dengan Tuhan dan sebagai media meningkatkan persaudaraan diantara para nelayan.
Pemilihan hari Minggu pertama di bulan Syawal tersebut dimaksudkan agar saudara-saudara atau anak cucu yang tinggalnya jauh dari Desa Poncosari masih berlibur di rumah orang tuanya sehingga bisa menyaksikan upacara tersebut. Di samping itu, hari Minggu merupakan hari libur sehingga banyak orang yang hadir di Pantai Pandan Simo. Upacaranya sendiri biasa dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Pelaksanaan upacara ditangani oleh para nelayan Dusun Ngentak. Salah satu di antara mereka, ada satu orang yang bertugas untuk melabuh sesaji ke tengah laut. Menurut pemangku adat, orang pilihan tersebut harus seseorang yang handal. Sedangkan para istri nelayan bertugas memasak dan menyiapkan sesaji. Acara Sedekah Laut dimulai dengan pembakaran kemenyan dan doa-doa dipimpin oleh mBah Cokro seabgai Juru Kunci petilasan HB VII. Sebelum membakar kemenyan terlebih dahulu mBah Cokro duduk bersila menghadap ke laut lalu menyembah dan dilanjutkan dengan pembakaran kemenyan. Setelah selesai lalu berdoa bersama dipimpin oleh juru kunci. Selama persiapan dan pelaksanaan upacara Sedekah Laut, semua kegiatan di laut dihentikan. Pada malam menjelang hari H, diadakan tahlilan yang dipimpin oleh Rois atau Kaur wilayah Dusun Ngentak. Pagi harinya, barang-barang yang dimasak untuk persiapan sesaji mulai diatur di tempat yang telah disiapkan oleh ibu-ibu dan kemudian dicek kelengkapannya oleh Pemangku Adat. Di lain pihak, bapak-bapak yang akan mengikuti prosesi siap memakai pakaian kejawen, sedang Tekong yang bertugas untuk melabuhkan sudah siap dengan pakaian melaut yang dilengkapi dengan pelampung. Perlu diketahui bahwa masyarakat pedusunan Ngentak ini tiap-tiap RT sudah mempunyai seragam tersendiri, misalnya warga RT 01 seragamnya bunga-bunga merah, warga RT 02 bunga-bunga kuning dan sebagainya. Seragam ini dipakai setiap ada kegiatan di kampung dan setiap ada Upacara Sedekah Laut. Menjelang pukul 10.00 WIB, jodhang beserta sesaji yang lain mulai diusung dibawa ke pesisir dengan diiringi teberapa barisan yang berseragam dari RT di wilayah Ngentak. Sesampai di sana telah diterima oleh panitia yang bertugas. Namun sebelum itu terlebih dahulu Juru Kunci sudah datang ke Petilasan HB VII untuk membakar kemenyan dan memohon doa restu atau istilahnya amit-amit. Kemudian acara puncak Sedekah Laut adalah melabuh barang sesaji ke tengah laut oleh seorang Tekong yang bertugas. Semua barang yang dipakai untuk upacara mempunyai makna sebagai persembahan puji syukur pada Yang Maha Agung lantaran Kanjeng Ratu Kidul sebagai penjaga Laut Selatan atas keselamatan dan penghasilan mereka dalam mencari ikan di Segoro Kidul atau Laut Selatan. Kurang lebih 15 tahun tradisi ini dilakukan oleh masing-masing rumah. Dalam perkembangannya, upacara Sedekah Laut ini dilaksanakan secara berkelompok sehingga semakin meriah dan semarak. Sekarang, dalam upacara, diiringi acara-acara kesenian seperti Salawatan, Jathilan, dan sebagainya.
Tidak ada gambar.
Tidak ada video.
-
| Tahun Data | : | 2019 |
| Terakhir Update | : | 12 September 2014 - 10:58:57 |